Akhirnya setelah sekian lama memikirkan tempat pemutaran film,'Cheat Chat Bingo' diputar juga. Walau cuman lewat TV dan sebuah sound system di rumah orang dengan nebeng acara orang pula,saya cukup puas dengan pemutaran kemarin. Ditambah respon baik dari teman teman melengkapi sebagai bonus.
Kemarin itu adalah acara perpisahan Nico yang akan melanjutkan sekolah ke Singapura. Kemudian saya minta ijin kepadanya untuk nebeng memutar film. Terhitung sekitar 30 orang,semuanya adalah siswa Kanisius yang menonton film itu kemarin.
Saya tak membuat ekspektasi apa apa,karena film itupun juga proses pembelajaran. Tapi rasanya senang sekali melihat respon teman teman terhadap film itu. Semua bersorak pada saat bagian Tigor mengungkapkan pembicaraanya dengan Pater Sigit yang semaunya. Puas rasanya.
Mereka bilang film ini bisa jadi mengacak ngacak peraturan menyontek di Kanisius,mengingat apa yang Tigor ungkapkan saat interogasinya dengan Pater Sigit. Ada juga yang berpendapat ini bisa jadi titik perubahan di Kanisius. Saya tak yakin.
Bagi saya,sayan ingin menjadikan kasus Tigor sebagai pembelajaran bagi Kanisius. Atau bagi para pimpinan tepatnya. Mereka punya peraturan yang sangat mulia tujuannya,apalagi di masa yang rentan korupsi seperti sekarang ini. Mereka sangat menjunjung tinggi nilai kejujuran. Tapi mereka lupa bahwa mereka pun bisa saja melakukan ketidakjujuran. Mereka lupa bahwa peraturan tentang kejujuran pun harus diaplikasikan dengan penuh kejujuran.
Sudah sangat sering saya mendengar bahwa aksi sogok menyogok pun terjadi dalam peraturan ini. Hal tersebut tak saya masukkan ke film karena saya mungkin akan membuang durasi dengan suatu hal yang belum terbukti secara objektif. Walaupun sebenarnya ini keluar dari mulut orang tua sang pelaku.
Tigor pun sebenarnya berbicara tentang ini dalam wawancara untuk film. Bahwa pernah terjadi pemberian inventaris kepada sekolah untuk mencegah dikeluarkannya murid yang menyontek. Tigor pun mengaku memiliki datanya,ia mendapatkannya dari seorang guru. Kejadiannya terjadi pada dua angkatan diatas saya (satu angkatan diatas Tigor). Si pelaku menyontek,namun tetap dipertahankan di sekolah dengan menyumbangkan sebuah inventaris sekolah.
Sekali lagi,saya tak memasukannya ke film,karena melihat nilai kebenaran berita itu yang belum pasti. Mungkin saja benar,karena orang tua saya yang kebetulan adalah teman dari orang tua sang pelaku pun berkata seperti itu. Biarkan berita itu tetap berputar,jika tidak benar syukurlah,jika benar saya akan benar benar jijik terhadap pimpinan sekolah saya.
Kasus Tigor merupakan PR untuk sekolah yang harus segera diselesaikan. Saya telah mendengar peraturan menyontek telah direvisi dengan memberikan definisi dan batasan. Namun,sayangnya,peraturan yang telah direvisi itu hanya disosialisasikan terhadap para siswa baru. Kami (kelas 11 dan 12) tak mendapat pemberitahuan apapun tentang hal tersebut. Bahkan kami tak pernah mendapat buku peraturan yang telah direvisi tersebut.
Hal itu bisa berakibat sangat buruk bagi kami sebagai siswa. Kasus Tigor bisa saja terulang kembali. Tigor sudah menjadi contoh ketidakbecusan para pimpinan dalam membuat peraturan. Tigor harus dikeluarkan tanpa ada proses pembuktian. Hal itu terjadi karena kelalaian para pimpinan dalam menciptakan peraturan dengan jelas.
Kasus Tigor merupakan trauma bagi kita semua,termasuk untuk Ibu Fina,wali kelas Tigor saat itu. Saya sempat ingin mewawancarai beliau. Namun beliau menolak. Baginya,biarkan kasus Tigor menjadi luka untuk dirinya sendiri. Terlihat matanya mulai menahan air mata. Saya hanya dapat terdiam. Kemudian ia meminta maaf kepada saya.
Trauma itu masih tersisa sampai sekarang. Mungkin tidak bagi para pimpinan. Tapi bagi kami semua,siswa yang selalu menjadi bulan bulanan. Yang selalu menjadi pihak yang disalahkan dalam menyontek tampat melihat faktor lain mengapa seorang siswa menyontek.
Peraturan yang bertujuan melatih kejujuran ini harus selalu diaplikasikan pula dengan kejujuran. Kami butuh kejujuran para pimpinan atas apa yang terjadi pada kasus Tigor. Tidak melulu diam. Menolak diwawancara. Jika memang tak ada yang disembunyikan,bicaralah dengan jujur kepada kami semua atas kasus Tigor.
We never forgive,we never forget.
- Mood:
Bitter - Listening to: Michael Jackson
- Reading: Abad Ideologi
- Watching: Wimbledon Final
--
^deviantartfilm
=Black-White-Club
=SkyAndNatureClub
~indonesia
watch my short films : [link]
saya suka isi gallery'nya..
--
^deviantartfilm
=Black-White-Club
=SkyAndNatureClub
~indonesia
watch my short films : [link]
Previous Page12345...Next Page